Malam ini adalah malam paling menyakitkan untuk Indi, cowok yang selama ini dia sayangi, tega mengkhianatinya. Mika tega mengkhianati Indi. Dengan gampangnya Mika memutuskan hubungannya bersama Indi, dan tanpa ragu memperlihatkan kemesraannya bersama Michel.
Indi hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Indi tidak tau dimana letak kesalahannya. Selama ini, Indi merasa semua baik-baik saja, tapi tidak bagi Mika. Ternyata selama ini Mika tidak bersungguh-sungguh pada Indi. Ia hanya mempermainkan perasaan Indi. Ia hanya menganggap Indi sebagai pelariannya.
Indi tahu bahwa hal ini akan terjadi, ia sudah mengira bahwa Mika tidak bersungguh-sungguh mencintainya. Tapi, ia selalu berfikir bahwa semua itu hanyalah ketakutannya yang terlalu berlebihan. Entah kenapa Indi sangat yakin bahwa Mika serius terhdapnya.
Sekarang ketakutan Indi terjadi, Mika sudah tidak bersamanya lagi. Mika sudah memilih untuk kembali bersama Michel. Indi tidak ingin memikirkan hal seperti ini berlarut-larut.
Indi yakin ia bisa menjalaninya meski tanpa seseorang yang ia cintai. Karena Indi yakin masih banyak sahabat dan keluarganya yang selalu ada untuknya.
Jumat, 20 Februari 2015
If I Start to Doubt?
Dan lagi, untuk kesekian kalinya saya mencoba menerima cinta baru di dalam kehidupan saya. Entah apa yang mendorong saya sehingga saya kembali menerima cinta yang belum tentu dapat saya jalani. Mungkin hanya sekedar pelarian, saya selalu saja seperti ini tanpa memikirkan resiko apa yang nantinya akan terjadi.
Mungkin memang salah melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa ke dalam masalah perasaan saya, tetapi saya butuh sandaran di saat orang yang saya cintai menyakiti saya, saya butuh seseorang yang bisa membuat saya nyaman dan bisa membuat saya merasa berharga untuk dicintai.
Saya mencoba menjalani semuanya, membuat seolah semua baik-baik saja.
Sejauh ini memang baik-baik saja, kamu membuat saya bahagia, kamu memberikan saya perhatian yang tidak saya dapatkan dari orang yang saya cintai, tapi saya tidak yakin apakah ini dapat bertahan lama ataukah hanya sesaat saja? Hanya saya dan kamu yang tahu perasaan kita masing-masing.
Kamu membuat hari-hari saya lebih berwarna, kamu membuat saya merasa sangat berharga, kamu tidak pernah membuat saya kecewa. Saya selalu berfikir, apakah ini akan bertahan selamnya atau hanya sesaat saja? Lagi-lagi fikiran semacam itu memnuhi fikiran saya, saya takut, tapi saya harus tetap menjalani semua ini semampu kita.
Semakin hari aku melihat semua terasa berbeda, kamu perlahan mulai jauh, perlahan kamu menunjukkan hal yang membuat saya takut menjalani hal ini, menjalani suatu hubungan, tapi saya tetap bertahan dalam kondisi seperti ini.
Semakin hari kabarmu semakin sulit saya dapat, kamu sudah terlalu jauh dari jangkauanku. Mungkin memang masih terlalu muda untuk menggambarkan hubungan ini, tapi saya menaruh harapan besar padamu.
Saya tidak tahu apa yang saya rasakan saat ini, apakah mungkin saya mulai meragukan perasaan ini? Entahlah, saya hanya berharap semua ketakutan saya tidak benar. Semoga kamu dapat menjelaskan semua ini suatu hari nanti. Semoga saja ini dapat bertahan lama
Mungkin memang salah melibatkan orang yang tidak tahu apa-apa ke dalam masalah perasaan saya, tetapi saya butuh sandaran di saat orang yang saya cintai menyakiti saya, saya butuh seseorang yang bisa membuat saya nyaman dan bisa membuat saya merasa berharga untuk dicintai.
Saya mencoba menjalani semuanya, membuat seolah semua baik-baik saja.
Sejauh ini memang baik-baik saja, kamu membuat saya bahagia, kamu memberikan saya perhatian yang tidak saya dapatkan dari orang yang saya cintai, tapi saya tidak yakin apakah ini dapat bertahan lama ataukah hanya sesaat saja? Hanya saya dan kamu yang tahu perasaan kita masing-masing.
Kamu membuat hari-hari saya lebih berwarna, kamu membuat saya merasa sangat berharga, kamu tidak pernah membuat saya kecewa. Saya selalu berfikir, apakah ini akan bertahan selamnya atau hanya sesaat saja? Lagi-lagi fikiran semacam itu memnuhi fikiran saya, saya takut, tapi saya harus tetap menjalani semua ini semampu kita.
Semakin hari aku melihat semua terasa berbeda, kamu perlahan mulai jauh, perlahan kamu menunjukkan hal yang membuat saya takut menjalani hal ini, menjalani suatu hubungan, tapi saya tetap bertahan dalam kondisi seperti ini.
Semakin hari kabarmu semakin sulit saya dapat, kamu sudah terlalu jauh dari jangkauanku. Mungkin memang masih terlalu muda untuk menggambarkan hubungan ini, tapi saya menaruh harapan besar padamu.
Saya tidak tahu apa yang saya rasakan saat ini, apakah mungkin saya mulai meragukan perasaan ini? Entahlah, saya hanya berharap semua ketakutan saya tidak benar. Semoga kamu dapat menjelaskan semua ini suatu hari nanti. Semoga saja ini dapat bertahan lama
Selasa, 27 Januari 2015
Hujan
Hari
ini tepat satu tahun kamu pergi dari dunia ini. Tapi, tidak sedikitpun yang aku
lupakan tentang bayanganmu dan tentang semua kenangan indah kita. Dan hujan di
hari ini pun kembali mengingatkanku pada semua kenangan indah kita yang sampai
kapanpun tidak akan pernah aku lupakan dan akan selalu kusimpan rapi di dalam
hati dan di dalam memori ingatanku.
...
One years ago..
Musim hujan terakhir
yang aku lewati bersamamu.
“Ni,
mau nggak janji sesuatu sama aku?” tanya Kevin saat dirinya dan Riani sedang
duduk di rumah pohon tempat favorit mereka.
“Janji
apa Vin?” jawabku sambil menatp butir hujan yang jatuh membasahi bumi.
“Janji
kalau kamu akan tetap bahagia menjalani hidup kamu meski aku udah nggak ada
lagi di samping kamu”.
Perkataan
Kevin barusan sontak membuat Riani kaget bagai tersambar petir, rasanya ia
ingin menangis saat itu juga bersama hujan yang turun.
“ngomong
apaan sih Vin, aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu” jawabku tanpa sedikitpun
menoleh ke arahnya.
Lalu
kevin pun menggeser tubuhnya mendekat pada Riani lalu merengkuhnya dan mengelus
rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Ni,
nggak selamanya kita bisa bersama, ada kalanya kita bakalan pisah, dan aku mau
kamu tetap bahagia meski tanpa aku, aku mohon kamu janji sama aku” pintanya.
“Iya
aku janji”.
Dua
minggu setelah itu, aku mendapat kabar bahwa Kevin masuk rumah sakit, dengan
panik aku menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit aku menemui Tante Rina
dan Om Julio, mereka orang tua Kevin.
Mereka
pun mempersilahkan aku masuk ke ruang ICU.
Kakiku
langsung lemas melihat orang yang aku cintai terbaring lemah dengan selang
infus melekat di tanganny serta beberap peralatan jantung. Ya, ternyata selama
ini Kevin mengidap penyakit jantung, yang sewaku-waktu dapat merenggut
nyawanya.
Air
mataku tak dapat terbendung lagi saat itu. Sekarang aku tahu, apa maksud
perkataan Kevin waktu itu, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku mengenai
penyakitnya? Aku merasa hancur melihat sosok yang sangat kucintai seperti ini,
aku tidak mau kehilangan Kevin, aku sangat mencintainya. Kugenggam tangannya,
dan terus memanggil namanya, berharap ia akan segera sadar dan terbangun dari
tidurnya.
...
Kurasakan
tangan Kevin bergerak-gerak dalam genggamanku, dia membuka matanya dan
tersenyum menatapku.
“Kok
kamu nangis? Aku nggak mau lihat kamu nangis” ucapnya sambil mengusap air
mataku.
“ka..kamu
kenapa nggak pernah cerita soal ini?”kataku sambil terbata-bata.
“aku
nggak apa-apa Ni, kamu masih ingat janji kamu sama aku?”
“iya
aku ingat. Tapi, aku yakin kamu pasti bakalan sembuh kan? Kamu nggak bakalan
ninggalin aku kan?”
“Ni,
aku beruntung banget punya kamu, aku bersyukur selama ini kamu selalu ada buat aku,
kamu nggak pernah sekalipun merasa jenuh dengan hubugan kita, bahkan kamu nggak
pernah ngeluh ini itu sama aku, aku sayang kamu Ni, aku mohon jngan pernah
menangis lagi, aku nggak akan pernah sanggup ngeliat air mata kamu. I love you
Ni, apapun yang terjadi kamu harus tetap bahagia.”
“iya
Vin, aku janji sama kamu, aku nggak akan nangis demi Kamu.”
Setlah
aku mengucapkan itu, Kevin memejamkan mata, kulihat layar komputer berbunyi
menandakan detak jantung Kevin sudah tidak ada. Aku memanggil dokter. Dan ternyata
Kevin sudah meninggal.
...
Yah,
kenangan itu nggak akan pernah aku lupakan seumur hidup aku, Kevin udah ngebuat
hidup aku indah dan berarti selama ini. Aku akan selalu menjaga cinta ini untuk
Kevin. Sampai kapanpun.
Dan
setiap hujan turun, aku selalu mengingat Kevin dan kenanganku bersamanya.
Aku
janji aku akan bahagia menjalani hidup ini, dan aku yakin Kevin juga pasti
bahagia di atas sana.
Senin, 26 Januari 2015
I KNOW HE IS LYING TO ME, BUT I KEEP WANTING HIM
“Apa....??”
Alya menutup mulut
Gista dengan tangannya untuk menghindari tatapan aneh orang-orang di sekitar
mereka akibat suara cempreng milik Gista. Dia sudah maklum dengan kehebohan
sahabatnya itu.
“Berisik tau gak!
Malu diliatin orang”, katanya.
“Iya sori kelepasan
kali Al, lagian lo itu bego atau kenapa sih, punya pacar kok kayak ngga punya,
lo sakit dia malah tetap nomor satuin kerjaan? Ampun dehh”.
Sejujurnya,
Alya juga mengharapkan perhatian dari Glenn. Buat apa punya pacar, kalau
nyatanya itu cuman sekedar status? Bukannya Alya mau bergantung terus sama
orang lain, tapi setidaknya Glenn meluangkan waktu untuk mengantar Alya yang
tengah sakit.
“Ya
ampun Gis, gue ini udah gede kali, masa gitu aja pake dianterin? Emangnya gue
udah sekarat gitu, sampai harus dianterin segala?”
“Terserah
lo aja deh Al! Capek gue ngeliat hubungan lo sama Glenn, masa kerjaan lebih
pening daripada pacar?”
Yaps!
Gista bener! Gumam Alya dalam hati. Tapi, apa yang bisa Alya harapkan dari
Glenn? Karena, ada sesuatu yang nggak ada satupun orang tau kecuali Alya. Yang
jelas Alya sudah cukup bahagia memiliki Glenn sebagai pacarnya.
“Udah
nggak usah dibahas lagi, yuk balik kantor, gue masih punya banyak kerjaan”
desahnya.
Setelah
mereka selesai, mereka berdua pun kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan
yang sudah menanti mereka.
...
Sesampai
di kantor, Alya masih belum bisa fokus dengan pekerjaannya, fikirannya masih
tertuju kepada Glenn, sosok yang sangat dicintainya sudah terlalu jauh dalam
jangkauannya, Alya takut kalau hal yang paling ia takutkan terjadi, ia tidak
siap jika Glenn harus meninggalkannya, ia masih sangat belum siap menghadapi
semua itu.
Tapi,
sebesar apapun ketakutannya, ia harus tetap menerimanya, karena itulah resiko
yang harus ia terima memilih mencintai orang yang mencintai orang lain.
Alya
tertegun sejenak.
Dengan
gerakan lincah, ia menyentuh screen ponselnya dan menunggu seseorang mengangkat
telfonnya.
“Glenn?”
“Halo
Al, ada apa?”
“Bentar
malam jadi kan Glenn?”
“Iya
jadi kok, ku jemput jam 7 yah”
Lea
pun tersenyum mendengar pernyataan itu.
“oke
sampai ketemu Glen”
Alya
menurunkan ponselnya lalu meletakkannya kembali ke dalam tas.
Alya
berharap malam yang sudah lama dia nantikan akan menjadi malam yang indah.
...
Alya
dan Glenn sudah berada di salah satu restoran.
Beberapa
saat kemudian, pelayan datang ke meja mereka, lalu menyodorkan menu makanan dan
minuman kepada mereka.
“Kamu
mau makan apa Glenn?” tanya Alya.
“Samain
aja sama kamu”
“Minumnya?”
tanya Alya lagi.
“Lemon
tea aja” ucapnya.
Dengan
lincah, pelayan itu mencatat pesanan Alya dan Glenn lalu segera pergi.
...
Setelah
mereka selesai menyantap makanan, tiba-tiba Glenn mengambil tangan Alya.
“Al,
aku mau ngomong sesuatu” ucap Glen dengan tatapan serius.
Perasaan
Alya mulai tidak enak, ia merasa bahwa hal buruk akan terjadi padanya malam
ini.
“Ngomong
aja Glenn.”
“Aku
mau udahin hubungan ini Al”
Saat
itu juga hati Alya bagai tersambar petir. Untungnya saat itu ia sedang duduk,
kalau tidak, ia mungkin sudah tersungkur ke lantai saking lemasnya.
“Aku
udah tau Glenn, suatu saat kamu pasti akan mengakhiri hubungan ini”
“Maafin
aku Al, aku udah berusaha tapi aku ngga bisa mencintai kamu, aku harap kamu
bisa dapat orang yang tulus mencintai kamu. Maafin aku Al.
Setelah
mengucapkan itu Glenn meninggalkan Alya yang sedang menangis sendirian.
Akhirnya,
hal yang selama ini Alya takutkan terjadi juga. Dari awal ia sudah mengetahui
bahwa hubungan ini tidak akan bertahan lama, karena ia yakin Glenn selama ini
berbohong tentang perasaannya, ia memang tidak pernah mencintai Alya, ia hanya
kasihan dan menerima Alya karena kebaikan Alya selama ini. Tapi, Alya begitu
bodoh sehingga ia tidak perduli dengan semua itu, karena ia menginginkan Glenn,
ia sangat mencintai , meski akhirnya ia harus berpisah dengan Glenn.
Setidaknya,
Alya bahagia pernah bersama dengan Glenn selama 5 tahun dan memiliki status
berpacaran dengan Glenn. Dan Alya pun tidak tahu sampai kapan ia akan mencintai
Glenn. Tapi, ia yakin suatu saat nanti ia akan melupakan semua kenangannya
bersama Glenn.
Ia yakin
dan bahkan sangat yakin.
Kamis, 22 Januari 2015
SELAMANYA KITA ADALAH SAHABAT
Aku
selalu merasa paling beruntung memiliki sahabat seperti seperti Dara, Ibam,
Bryan, dan Angga. Sumpah, aku paling beruntung punya sahabat kayak mereka. Aku, Ibam, Bryan dan
Angga juga beruntung punya sahabat kayak Dara, dia bagaikan bidadari buat kami,
dia yang selalu buat kami semangat saat kami sedang punya masalah.
Persahabatan
kami udah 8 tahun, dan selama 8 tahun itu, kami nggak pernah sekalipun namanya
berantem atau nggak ngumpul, dan parahnya lagi, nggak ada satupun diantara kita
berlima yang punya pacar. Okey bukan nggak punya, tapi belum mau. Hahaha.
Tapi,
hari ini adalah hari dimana keceriaan yang dulu biasanya mewarnai persahabatn
kami, lenyap. Ketika Dara divonis mengidap penyakit Leukimia stadium akhir,
kami semua nggak seceria dulu lagi, kami
terus memikirkan keadaan Dara. Kami takut sewaktu-waktu Dara akan pergi
meninggalkan kami.
“sampai
kapan sih kalian mau kayak gini terus, aku nggak mau di sisa hidup aku kalian
malah jadi kayak gini, aku nggak mau, plis dong jangan kayak gini terus”
ucapnya membuka percakapan diantara
kami.
“kita
semua nggak mau kehilangan kamu Dar, kita semua sayang kamu” ucapku..
“kalian
nggak akan kehilangan yang namanya Dara, aku akan selalu ada buat kalian,
apapun yang terjadi, aku janji aku akan selalu ada disisi kalian” katanya
“tapi..”
selaku.
“udahlah
Reno, aku mohon udah yah, aku mau kalian bahagia, aku mau kalian buat aku juga
ikut bahagia jalanin sisa hidup aku, aku mohon”sambungnya.
“Oke
Dar, kita semua janji nggak akan sedih-sedih lagi, kita bakalan buat hidup kamu
indah seindah mungkin” ucapku.
Lalu,
kami semua memeluknya.
Hari-hari
kami lalui kembali seperti biasa, kami ngumpul seperti biasa, nggak jarang kami
memberikan kejutan-kejutan kecil yang dia anggap itu sangat berharga. Aku bahagia
melihat keadaan kami kayak dulu lagi, aku cuman bisa berharap aku masih bisa
merasakan kebahagiaan ini bersama mereka lebih lama lagi.
Tapi,
harapan hanyalah sekedar harapan, makin lama keadaan Dara makin memburuk. Kondisinya
makin melemah. Pertemuan kami pun sudah tidak sesering dulu lagi. Dara lebih
sering berada di rumah sakit. Kami pun sibuk dengan kerjaan masing-masing.
“Pagi
Dar, gimana keadaan kamu? Udah baikan?” tanyaku yang tiba-tiba muncul di pintu,
disusul Bryan, Ibam, dan Angga.
“heyy,
kalian datang? Nggak pada kerja?”tanya Dara dengan suara lemah.
“kerjaan
gampang, yang penting sekarang, kita semua ada disini buat kamu” sambung Bryan.
“makasih
ya”
“aku
boleh minta sesuatu sama kalian?tanya Dara memecah keheningan.
“boleh
dong! Apasih yang nggak buat Daranya kami” ucap Angga diikuti senyum jahilnya.
“bawa
aku keluar dari sini sekarang, aku pengen jalan-jalan.”
“tapi
Dar...”jawab Ibam dengan ragu-ragu.
“aku
mohon, aku nggak mau sisa hidup aku cuman di rumah sakit dan tiduran terus
kayak gini, aku mau jalan dan seru-seruan sama kalian” pintanya.
“yaudah,
tapi beneran kamu nggak apa-apa?” tanyaku cemas.
“Iya
aku nggak apa-apa.”
Lalu,
kami pun membawanya keluar dari rumah sakit.
Sepanjang
hari ini, kami membawanya ke tempat-tempat yang menyenangkan, kami
memperlakukannya layaknya putri raja yang tidak boleh tergores sedikitpun. Aku sangat
bahagia. Tiba-tiba...
“Dar,
hidung kamu berdarah” sontak Ibam.
“nggak
apa-apa Ren, aku nggak apa-apa” ucapnya.
“Kita
balik ke rumah sakit sekarang” sambungku.
Aku,
Ibam, Bryan dan Angga pun segera membawa Dara kembali kerumah sakit.
Belum
sampai dirumah sakit, Dara pingsan.
Kami
semua takut kehilangan Dara.
Sesampai
dirumah sakit dia langsung dibawa ke kamarnya.
Tidak
lama setelah itu, dia sadar.
“hey, kalian semua kok nangis?”tanya Dara
ketika melihat kami semua menangis
“kita
nggak mau kehilangan kamu Dar”ucapku.
“aku
kan udah pernah bilang kalian nggak akan pernah kehilangan aku, aku akan selalu
ada di sisi kalian selamanya.”ucapnya.
“Aku
sayang kalian, dan selamanya kita akan tetap menjadi sahabat meski dunia kita
udah berbeda.
Setelah
mengatakan itu Dara memejamkan matanya.
Dara
meninggal..
Setelah
pemakaman selesai, aku, Ibam, Bryan, dan Angga berkumpul di tempat biasa. Kami tidak
berhenti memikirkan Dara, tapi kami sudah berjanji akan tetap menjalani
hari-hari meski tanpa Dara.
Karena,
walaupun Dara tidak ada disamping kami, dia akan selalu berada di sisi kami
untuk selamanya.
----------------------
Selasa, 20 Januari 2015
Awal Januari
Hari
pertama di bulan januari disambut oleh cuaca yang mendung, langit gelap, yang
artinya sebentar lagi akan turun hujan. Yap! Hari ini pas menggambarkan suasana
hatiku yang semalam mengetahui semua kebohongan dan pengkhianatan yang telah kamu
lakukan. Bahkan aku masih berharap bahwa itu hanyalah mimpi, mimpi buruk , tapi
aku salah karena itu semua adalah kenyataan, kenyataan pahit yang harus aku
terima.
...
“Udah
bangun Le?” tanya Vivi
“eh
iya Vi, maaf aku kesiangan” jawabku.
“Nggak
apa-apa santai aja lagi Le” sahutnya.
“Hari
ini kita jadi ke pameran foto itu kan Vi?” tanyaku
“Jadi
kok, ini aku udah mau mandi, kamu juga siap-siap gih”perintahnya.
“oke
Vi.”
Lalu,
aku dan Vivi bergegas untuk segera pergi ke pameran foto yang sudah kami rencanakan.
...
Sesampai
di pameran foto, aku izin sama Vivi untuk ke toilet. Aku pun berlari dan
mungkin karena terburu-buru aku tidak melihat sekitarku.
Brukkk..
Aku
menabrak seseorang dan terjatuh.
“Eh,
maaf aku nggak sengaja soalnya aku buru-buru” kataku sambil membereskan isi
tasku yang berserakan.
“iya
nggak apa-apa tapi lain kali hati-hati, sini aku bantu” sahutnya sambil
mengulurkan tangannya.
“Makasih,
sekali lagi maaf, aku bener-bener nggak sengaja” kataku
“iya,
aku Andre.” Sahutnya sambil mengambil tanganku lalu menjabatnya.
“Oh
iya aku Lea” balasku sambil tersenyum.
“Maaf
aku harus pergi, makasih juga yah?” sambungku lalu aku bergegas pergi.
...
Aku
pun kembali ke pameran foto dan menemui Vivi. Selama di pameran aku tidak
fokus, fikiranku tertuju pada cowok yang namanya Andre, entah kenapa dia nggak
marah udah aku tabrak dan malah ngajak kenalan. Entahlah, aku masih tidak
mengerti.
...
“le,
makan yuk.”ajak vivi.
“yuk”sahutku.
Kami
pun bergegas menuju sebuah cafe. Sesampai di cafe, aku dikejutkan oleh lambaian
tangan seseorang yang sedang menuju ke arahku.
“Eh,
kita ketemu lagi yah?”katanya
“Oh
eh hai”jawabku kikuk.
“siapa
nih Le?”bisik Vivi.
“Oh
iya Ndre, ini Vivi sahabat aku, Vi, ini Andre yang tadi aku ngga sengaja nabrak
pas aku mau ke toilet” sambungku.
Kami
bertiga pun makan bersama, dan ternyata sosok Andre telah membuatku kagum tanpa
aku sadari, dia orangnya humoris, ramah, dan juga memiliki sisi misterius.
Nggak terasa waktu berlalu begitu cepat, kami pun berpisah di cafe itu, dengan
saling bertukar nomor telfon.
...
Sejak
hari itu, aku dan Andre sering bertemu , dia sering menelfonku dan mengajakku
makan atau hanya sekedar jalan-jalan, membahas hal-hal yang kami anggap seru.
Kapasitas pertemuan kami bisa dibilang sering, entah bagaimana awalnya, yang
pasti kamu berdua menikmati kebersamaan ini.
...
Tanpa
aku sadari, aku mulai merasa nyaman berada dekat Andre, entah karena apa,
mungkin aku mulai jatuh cinta. Kalau seperti itu, aku berharap ini menjadi Awal
yang baik di awal tahun dan awal bulan ini. Semoga...
-----------------------------
Langganan:
Komentar (Atom)