“Apa....??”
Alya menutup mulut
Gista dengan tangannya untuk menghindari tatapan aneh orang-orang di sekitar
mereka akibat suara cempreng milik Gista. Dia sudah maklum dengan kehebohan
sahabatnya itu.
“Berisik tau gak!
Malu diliatin orang”, katanya.
“Iya sori kelepasan
kali Al, lagian lo itu bego atau kenapa sih, punya pacar kok kayak ngga punya,
lo sakit dia malah tetap nomor satuin kerjaan? Ampun dehh”.
Sejujurnya,
Alya juga mengharapkan perhatian dari Glenn. Buat apa punya pacar, kalau
nyatanya itu cuman sekedar status? Bukannya Alya mau bergantung terus sama
orang lain, tapi setidaknya Glenn meluangkan waktu untuk mengantar Alya yang
tengah sakit.
“Ya
ampun Gis, gue ini udah gede kali, masa gitu aja pake dianterin? Emangnya gue
udah sekarat gitu, sampai harus dianterin segala?”
“Terserah
lo aja deh Al! Capek gue ngeliat hubungan lo sama Glenn, masa kerjaan lebih
pening daripada pacar?”
Yaps!
Gista bener! Gumam Alya dalam hati. Tapi, apa yang bisa Alya harapkan dari
Glenn? Karena, ada sesuatu yang nggak ada satupun orang tau kecuali Alya. Yang
jelas Alya sudah cukup bahagia memiliki Glenn sebagai pacarnya.
“Udah
nggak usah dibahas lagi, yuk balik kantor, gue masih punya banyak kerjaan”
desahnya.
Setelah
mereka selesai, mereka berdua pun kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan
yang sudah menanti mereka.
...
Sesampai
di kantor, Alya masih belum bisa fokus dengan pekerjaannya, fikirannya masih
tertuju kepada Glenn, sosok yang sangat dicintainya sudah terlalu jauh dalam
jangkauannya, Alya takut kalau hal yang paling ia takutkan terjadi, ia tidak
siap jika Glenn harus meninggalkannya, ia masih sangat belum siap menghadapi
semua itu.
Tapi,
sebesar apapun ketakutannya, ia harus tetap menerimanya, karena itulah resiko
yang harus ia terima memilih mencintai orang yang mencintai orang lain.
Alya
tertegun sejenak.
Dengan
gerakan lincah, ia menyentuh screen ponselnya dan menunggu seseorang mengangkat
telfonnya.
“Glenn?”
“Halo
Al, ada apa?”
“Bentar
malam jadi kan Glenn?”
“Iya
jadi kok, ku jemput jam 7 yah”
Lea
pun tersenyum mendengar pernyataan itu.
“oke
sampai ketemu Glen”
Alya
menurunkan ponselnya lalu meletakkannya kembali ke dalam tas.
Alya
berharap malam yang sudah lama dia nantikan akan menjadi malam yang indah.
...
Alya
dan Glenn sudah berada di salah satu restoran.
Beberapa
saat kemudian, pelayan datang ke meja mereka, lalu menyodorkan menu makanan dan
minuman kepada mereka.
“Kamu
mau makan apa Glenn?” tanya Alya.
“Samain
aja sama kamu”
“Minumnya?”
tanya Alya lagi.
“Lemon
tea aja” ucapnya.
Dengan
lincah, pelayan itu mencatat pesanan Alya dan Glenn lalu segera pergi.
...
Setelah
mereka selesai menyantap makanan, tiba-tiba Glenn mengambil tangan Alya.
“Al,
aku mau ngomong sesuatu” ucap Glen dengan tatapan serius.
Perasaan
Alya mulai tidak enak, ia merasa bahwa hal buruk akan terjadi padanya malam
ini.
“Ngomong
aja Glenn.”
“Aku
mau udahin hubungan ini Al”
Saat
itu juga hati Alya bagai tersambar petir. Untungnya saat itu ia sedang duduk,
kalau tidak, ia mungkin sudah tersungkur ke lantai saking lemasnya.
“Aku
udah tau Glenn, suatu saat kamu pasti akan mengakhiri hubungan ini”
“Maafin
aku Al, aku udah berusaha tapi aku ngga bisa mencintai kamu, aku harap kamu
bisa dapat orang yang tulus mencintai kamu. Maafin aku Al.
Setelah
mengucapkan itu Glenn meninggalkan Alya yang sedang menangis sendirian.
Akhirnya,
hal yang selama ini Alya takutkan terjadi juga. Dari awal ia sudah mengetahui
bahwa hubungan ini tidak akan bertahan lama, karena ia yakin Glenn selama ini
berbohong tentang perasaannya, ia memang tidak pernah mencintai Alya, ia hanya
kasihan dan menerima Alya karena kebaikan Alya selama ini. Tapi, Alya begitu
bodoh sehingga ia tidak perduli dengan semua itu, karena ia menginginkan Glenn,
ia sangat mencintai , meski akhirnya ia harus berpisah dengan Glenn.
Setidaknya,
Alya bahagia pernah bersama dengan Glenn selama 5 tahun dan memiliki status
berpacaran dengan Glenn. Dan Alya pun tidak tahu sampai kapan ia akan mencintai
Glenn. Tapi, ia yakin suatu saat nanti ia akan melupakan semua kenangannya
bersama Glenn.
Ia yakin
dan bahkan sangat yakin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar