Selasa, 20 Januari 2015

Aku dan Perasaanku




Jam menunjukkan pukul 7 pagi, aku pun segera bergegas untuk berangkat kuliah. Karena, aku tahu hari senin seperti ini jalanan sudah macet padahal hari ini aku ada kuis. Aku pun segera turun. Mbok Inah langsung menghampiriku.
“makan dulu non. Mbok udah siapin.”
“iya mbok” jawabku sambil mengambil selembar roti lalu mengolesnya dengan selai coklat.
Setelah selesai sarapan, aku pun langsung bergegas menuju mobil, lalu segera berangkat ke kampus.
...
Sesampai di kampus aku langsung menuju kelas, karena aku melihat mobil Pak Deni, dosen statistik sudah ada di parkiran dosen.
“Udah datang buu, lama amat sih? Udah tau ada kuis”  tanya Kara saat melihat aku datang.
“Haha iya sori Kar, lo tau sendiri jalanan macet” jawabku sambil mengeluarkan catatan untuk belajar sebelum Pak Deni masuk kelas dan memulai kuis.
Tiba-tiba mataku langsung tertuju kepada seseorang yang baru saja memasuki kelas. Dia Firly, orang yang ku suka sejak pertama kali masuk di kampus ini.
“Aduh mata lo Win, udah mau keluar aja tuh ngeliatin sang pujaan hati” ucap Kara.
“Apaan sih Kar, udah ah gue mau lanjut belajar” ucapku kikuk.
...
Mata kuliah Pak Deni pun berakhir, kuis berjalan dengan lancar. Mataku kembali tertuju pada Firly yang sibuk menulis. Entah apa yang membuatku suka padanya dan bahkan sampai detik ini aku lebih memilih memendam perasaanku, entah sampai kapan yang jelas aku masih belum mempunyai keberanian untuk mengatakaan apa yang sejujurnya aku rasakan padanya.
...
“Win, lo jadi ikut rapat senat?” tanya Kara membuyarkan lamunanku.
“Iya jadi, tapi makan dulu yah, tadi gue cuman sarapan roti dirumah” ajakku.
“Yaudah ayo”.
Aku dan Kara pun bergegas ke kantin. Setelah selesai makan, kami berdua segera menuju ruangan senat karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sesampai diruang senat, aku sudah melihat Firly disana, maklum karena dia adalah ketua senat kampus.
“Kalian udah datang? Yaudah duduk, bentar lagi rapat kita mulai” ucap Firly.
Ucapan itu mampu membuat mataku berbinar-binar dan senyum-senyum sendiri. Aku dan Kara pun lekas duduk. Rapat pun dimulai. Sepanjang rapat, pandanganku tetap tidak bisa terlepas dari Firly, entah apa yang terjadi padaku, akan tetapi rasa cinta ini sudah semakin besar terhadapnya. Setelah rapat selesai, Firly memanggilku dan Kara.
“Win, jangan pulang dulu yah, gue mau minta tolong sama lo” ucapnya.
“oke Fir.” Ucapku sambil menyembunyikan kegugupanku.
“ciyee diajakin ngedate tuh hahaha” bisik Kara.
“apaan sih lo Kar, udah ah kalo lo mau pulang duluan gapapa kok”
“oke gue duluan yah Win, Fir gue duluan” ucapnya lalu berlalu pergi.
Dan sekarang aku hanya berdua dengan Firly di ruangan ini, membuat jantungku berdetak semakin kencang, aku mencoba mengatur nafas, tapi tetap jantungku berdebar bahkan semakin kencang. Lalu Firly pun mengajakku masuk ke ruangannya.
“Win, tolong yah lo salin nama-nama ini terus lo print, gue mau nyusun proposal dulu” perintahnya tanpa sedikitpun memandangku.
“Iya Fir”
Setelah semua selesai dikerjakan aku dan Firly pulang. Bahkan di perjalanan pulang pun aku masih tidak mengerti mengapa dia hanya memintaku mengerjakan hal yang seharusnya bukan menjadi tugasku. Entahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Aku hanya bisa tetap seperti ini, bertahan pada perasaanku dan berharap suatu saat nanti dia akan mengetahui dan memberikan respon yang baik akan perasaanku terhadapnya. Yah aku harap.
Aku pun hanya bisa terus berharap hingga semuanya indah pada waktunya. Karena, aku yakin tidak akan ada perjuangan dan penantian yang sia-sia.
Aku tahu itu.

--------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar