Jam
menunjukkan pukul 7 pagi, aku pun segera bergegas untuk berangkat kuliah. Karena,
aku tahu hari senin seperti ini jalanan sudah macet padahal hari ini aku ada
kuis. Aku pun segera turun. Mbok Inah langsung menghampiriku.
“makan
dulu non. Mbok udah siapin.”
“iya
mbok” jawabku sambil mengambil selembar roti lalu mengolesnya dengan selai
coklat.
Setelah
selesai sarapan, aku pun langsung bergegas menuju mobil, lalu segera berangkat
ke kampus.
...
Sesampai
di kampus aku langsung menuju kelas, karena aku melihat mobil Pak Deni, dosen
statistik sudah ada di parkiran dosen.
“Udah
datang buu, lama amat sih? Udah tau ada kuis” tanya Kara saat melihat aku datang.
“Haha
iya sori Kar, lo tau sendiri jalanan macet” jawabku sambil mengeluarkan catatan
untuk belajar sebelum Pak Deni masuk kelas dan memulai kuis.
Tiba-tiba
mataku langsung tertuju kepada seseorang yang baru saja memasuki kelas. Dia Firly,
orang yang ku suka sejak pertama kali masuk di kampus ini.
“Aduh
mata lo Win, udah mau keluar aja tuh ngeliatin sang pujaan hati” ucap Kara.
“Apaan
sih Kar, udah ah gue mau lanjut belajar” ucapku kikuk.
...
Mata
kuliah Pak Deni pun berakhir, kuis berjalan dengan lancar. Mataku kembali
tertuju pada Firly yang sibuk menulis. Entah apa yang membuatku suka padanya
dan bahkan sampai detik ini aku lebih memilih memendam perasaanku, entah sampai
kapan yang jelas aku masih belum mempunyai keberanian untuk mengatakaan apa
yang sejujurnya aku rasakan padanya.
...
“Win,
lo jadi ikut rapat senat?” tanya Kara membuyarkan lamunanku.
“Iya
jadi, tapi makan dulu yah, tadi gue cuman sarapan roti dirumah” ajakku.
“Yaudah
ayo”.
Aku
dan Kara pun bergegas ke kantin. Setelah selesai makan, kami berdua segera
menuju ruangan senat karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sesampai diruang
senat, aku sudah melihat Firly disana, maklum karena dia adalah ketua senat
kampus.
“Kalian
udah datang? Yaudah duduk, bentar lagi rapat kita mulai” ucap Firly.
Ucapan
itu mampu membuat mataku berbinar-binar dan senyum-senyum sendiri. Aku dan Kara
pun lekas duduk. Rapat pun dimulai. Sepanjang rapat, pandanganku tetap tidak
bisa terlepas dari Firly, entah apa yang terjadi padaku, akan tetapi rasa cinta
ini sudah semakin besar terhadapnya. Setelah rapat selesai, Firly memanggilku
dan Kara.
“Win,
jangan pulang dulu yah, gue mau minta tolong sama lo” ucapnya.
“oke
Fir.” Ucapku sambil menyembunyikan kegugupanku.
“ciyee
diajakin ngedate tuh hahaha” bisik Kara.
“apaan
sih lo Kar, udah ah kalo lo mau pulang duluan gapapa kok”
“oke
gue duluan yah Win, Fir gue duluan” ucapnya lalu berlalu pergi.
Dan
sekarang aku hanya berdua dengan Firly di ruangan ini, membuat jantungku
berdetak semakin kencang, aku mencoba mengatur nafas, tapi tetap jantungku
berdebar bahkan semakin kencang. Lalu Firly pun mengajakku masuk ke ruangannya.
“Win,
tolong yah lo salin nama-nama ini terus lo print, gue mau nyusun proposal dulu”
perintahnya tanpa sedikitpun memandangku.
“Iya
Fir”
Setelah
semua selesai dikerjakan aku dan Firly pulang. Bahkan di perjalanan pulang pun
aku masih tidak mengerti mengapa dia hanya memintaku mengerjakan hal yang
seharusnya bukan menjadi tugasku. Entahlah, aku tidak mengerti dengan apa yang
terjadi saat ini. Aku hanya bisa tetap seperti ini, bertahan pada perasaanku
dan berharap suatu saat nanti dia akan mengetahui dan memberikan respon yang
baik akan perasaanku terhadapnya. Yah aku harap.
Aku
pun hanya bisa terus berharap hingga semuanya indah pada waktunya. Karena, aku
yakin tidak akan ada perjuangan dan penantian yang sia-sia.
Aku
tahu itu.
--------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar