Hari
ini tepat satu tahun kamu pergi dari dunia ini. Tapi, tidak sedikitpun yang aku
lupakan tentang bayanganmu dan tentang semua kenangan indah kita. Dan hujan di
hari ini pun kembali mengingatkanku pada semua kenangan indah kita yang sampai
kapanpun tidak akan pernah aku lupakan dan akan selalu kusimpan rapi di dalam
hati dan di dalam memori ingatanku.
...
One years ago..
Musim hujan terakhir
yang aku lewati bersamamu.
“Ni,
mau nggak janji sesuatu sama aku?” tanya Kevin saat dirinya dan Riani sedang
duduk di rumah pohon tempat favorit mereka.
“Janji
apa Vin?” jawabku sambil menatp butir hujan yang jatuh membasahi bumi.
“Janji
kalau kamu akan tetap bahagia menjalani hidup kamu meski aku udah nggak ada
lagi di samping kamu”.
Perkataan
Kevin barusan sontak membuat Riani kaget bagai tersambar petir, rasanya ia
ingin menangis saat itu juga bersama hujan yang turun.
“ngomong
apaan sih Vin, aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu” jawabku tanpa sedikitpun
menoleh ke arahnya.
Lalu
kevin pun menggeser tubuhnya mendekat pada Riani lalu merengkuhnya dan mengelus
rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Ni,
nggak selamanya kita bisa bersama, ada kalanya kita bakalan pisah, dan aku mau
kamu tetap bahagia meski tanpa aku, aku mohon kamu janji sama aku” pintanya.
“Iya
aku janji”.
Dua
minggu setelah itu, aku mendapat kabar bahwa Kevin masuk rumah sakit, dengan
panik aku menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit aku menemui Tante Rina
dan Om Julio, mereka orang tua Kevin.
Mereka
pun mempersilahkan aku masuk ke ruang ICU.
Kakiku
langsung lemas melihat orang yang aku cintai terbaring lemah dengan selang
infus melekat di tanganny serta beberap peralatan jantung. Ya, ternyata selama
ini Kevin mengidap penyakit jantung, yang sewaku-waktu dapat merenggut
nyawanya.
Air
mataku tak dapat terbendung lagi saat itu. Sekarang aku tahu, apa maksud
perkataan Kevin waktu itu, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku mengenai
penyakitnya? Aku merasa hancur melihat sosok yang sangat kucintai seperti ini,
aku tidak mau kehilangan Kevin, aku sangat mencintainya. Kugenggam tangannya,
dan terus memanggil namanya, berharap ia akan segera sadar dan terbangun dari
tidurnya.
...
Kurasakan
tangan Kevin bergerak-gerak dalam genggamanku, dia membuka matanya dan
tersenyum menatapku.
“Kok
kamu nangis? Aku nggak mau lihat kamu nangis” ucapnya sambil mengusap air
mataku.
“ka..kamu
kenapa nggak pernah cerita soal ini?”kataku sambil terbata-bata.
“aku
nggak apa-apa Ni, kamu masih ingat janji kamu sama aku?”
“iya
aku ingat. Tapi, aku yakin kamu pasti bakalan sembuh kan? Kamu nggak bakalan
ninggalin aku kan?”
“Ni,
aku beruntung banget punya kamu, aku bersyukur selama ini kamu selalu ada buat aku,
kamu nggak pernah sekalipun merasa jenuh dengan hubugan kita, bahkan kamu nggak
pernah ngeluh ini itu sama aku, aku sayang kamu Ni, aku mohon jngan pernah
menangis lagi, aku nggak akan pernah sanggup ngeliat air mata kamu. I love you
Ni, apapun yang terjadi kamu harus tetap bahagia.”
“iya
Vin, aku janji sama kamu, aku nggak akan nangis demi Kamu.”
Setlah
aku mengucapkan itu, Kevin memejamkan mata, kulihat layar komputer berbunyi
menandakan detak jantung Kevin sudah tidak ada. Aku memanggil dokter. Dan ternyata
Kevin sudah meninggal.
...
Yah,
kenangan itu nggak akan pernah aku lupakan seumur hidup aku, Kevin udah ngebuat
hidup aku indah dan berarti selama ini. Aku akan selalu menjaga cinta ini untuk
Kevin. Sampai kapanpun.
Dan
setiap hujan turun, aku selalu mengingat Kevin dan kenanganku bersamanya.
Aku
janji aku akan bahagia menjalani hidup ini, dan aku yakin Kevin juga pasti
bahagia di atas sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar