Selasa, 27 Januari 2015

Hujan




Hari ini tepat satu tahun kamu pergi dari dunia ini. Tapi, tidak sedikitpun yang aku lupakan tentang bayanganmu dan tentang semua kenangan indah kita. Dan hujan di hari ini pun kembali mengingatkanku pada semua kenangan indah kita yang sampai kapanpun tidak akan pernah aku lupakan dan akan selalu kusimpan rapi di dalam hati dan di dalam memori ingatanku.
...
One years ago..
Musim hujan terakhir yang aku lewati bersamamu.
“Ni, mau nggak janji sesuatu sama aku?” tanya Kevin saat dirinya dan Riani sedang duduk di rumah pohon tempat favorit mereka.
“Janji apa Vin?” jawabku sambil menatp butir hujan yang jatuh membasahi bumi.
“Janji kalau kamu akan tetap bahagia menjalani hidup kamu meski aku udah nggak ada lagi di samping kamu”.
Perkataan Kevin barusan sontak membuat Riani kaget bagai tersambar petir, rasanya ia ingin menangis saat itu juga bersama hujan yang turun.
“ngomong apaan sih Vin, aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu” jawabku tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.
Lalu kevin pun menggeser tubuhnya mendekat pada Riani lalu merengkuhnya dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Ni, nggak selamanya kita bisa bersama, ada kalanya kita bakalan pisah, dan aku mau kamu tetap bahagia meski tanpa aku, aku mohon kamu janji sama aku” pintanya.
“Iya aku janji”.
Dua minggu setelah itu, aku mendapat kabar bahwa Kevin masuk rumah sakit, dengan panik aku menuju rumah sakit. Sesampai di rumah sakit aku menemui Tante Rina dan Om Julio, mereka orang tua Kevin.
Mereka pun mempersilahkan aku masuk ke ruang ICU.
Kakiku langsung lemas melihat orang yang aku cintai terbaring lemah dengan selang infus melekat di tanganny serta beberap peralatan jantung. Ya, ternyata selama ini Kevin mengidap penyakit jantung, yang sewaku-waktu dapat merenggut nyawanya.
Air mataku tak dapat terbendung lagi saat itu. Sekarang aku tahu, apa maksud perkataan Kevin waktu itu, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku mengenai penyakitnya? Aku merasa hancur melihat sosok yang sangat kucintai seperti ini, aku tidak mau kehilangan Kevin, aku sangat mencintainya. Kugenggam tangannya, dan terus memanggil namanya, berharap ia akan segera sadar dan terbangun dari tidurnya.
...
Kurasakan tangan Kevin bergerak-gerak dalam genggamanku, dia membuka matanya dan tersenyum menatapku.
“Kok kamu nangis? Aku nggak mau lihat kamu nangis” ucapnya sambil mengusap air mataku.
“ka..kamu kenapa nggak pernah cerita soal ini?”kataku sambil terbata-bata.
“aku nggak apa-apa Ni, kamu masih ingat janji kamu sama aku?”
“iya aku ingat. Tapi, aku yakin kamu pasti bakalan sembuh kan? Kamu nggak bakalan ninggalin aku kan?”
“Ni, aku beruntung banget punya kamu, aku bersyukur selama ini kamu selalu ada buat aku, kamu nggak pernah sekalipun merasa jenuh dengan hubugan kita, bahkan kamu nggak pernah ngeluh ini itu sama aku, aku sayang kamu Ni, aku mohon jngan pernah menangis lagi, aku nggak akan pernah sanggup ngeliat air mata kamu. I love you Ni, apapun yang terjadi kamu harus tetap bahagia.”
“iya Vin, aku janji sama kamu, aku nggak akan nangis demi Kamu.”
Setlah aku mengucapkan itu, Kevin memejamkan mata, kulihat layar komputer berbunyi menandakan detak jantung Kevin sudah tidak ada. Aku memanggil dokter. Dan ternyata Kevin sudah meninggal.
...
Yah, kenangan itu nggak akan pernah aku lupakan seumur hidup aku, Kevin udah ngebuat hidup aku indah dan berarti selama ini. Aku akan selalu menjaga cinta ini untuk Kevin. Sampai kapanpun.
Dan setiap hujan turun, aku selalu mengingat Kevin dan kenanganku bersamanya.
Aku janji aku akan bahagia menjalani hidup ini, dan aku yakin Kevin juga pasti bahagia di atas sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar