Tangis
ini pun kembali tumpah.
Entah
sampai kapan aku harus lemah seperti ini, berpura-pura kuat hanya untuk
menyembunyikan segala kepedihan yang aku rasakan.
Hebat!
Iya, hebatnya aku selalu mengalah pada setiap permasalahan yang ada, hebatnya
aku yang selalu memperlihatkan senyum dan menyembunyikan luka didepan semua
orang, menangis disaat sendiri dan berusaha terlihat bahagia ditengah
keramaian.
Pernah
kau sadar akan semua itu? Tidak! Bahkan hanya untuk sedikit menyadari pun
tidak. Aku sudah terlalu lelah menghadapi semua ini, aku hanya butuh sedikit
kau merubah semuanya, sedikit saja.
Apa
mungkin terlalu bodoh untuk terus memperlihatkan kelemahanku dihadapanmu? Tidakkah
sedikit kau berfikir bahwa hanya aku satu-satunya orang yang tetap bertahan
dalam keadaan seperti apapun? Mungkin aku selalu berkata bahwa aku benci, aku
marah, bahkan aku akan pergi, tapi itu hanyalah sekedar kata-kata, tidak akan
pernah sanggup untukku sendiri membuktikan semua itu.
Kau
selalu berkata untuk mencari penggantimu. Apakah segampang itu kau menghapus
semua yang telah kita lewati? Semua yang telah terjadi?
Bukannya
aku tidak mau, bukannya aku tidak mampu, tapi, sulit bagiku untuk membagi apa
yang sudah tertanam sejak bertahun-tahun lamanya. Ibarat tanaman, ini sudah
berkali-kali tumbuh, layu, bahkan mati akan tetapi tetap bisa hidup kembali.
Sampai
kapan kau akan memperlakukanku seperti ini? Menganggapku sebagai mainanmu? Menganggapku
sebagai boneka yang bisa kau mainkan saat kau bosan dengan rutinitasmu dan
kembali menyimpannya saat kau menemukan rutinitas yang baru.
Aku
sadar aku memang terlalu bodoh, aku sangat ingin melepaskan semuanya,
melepaskan segalanya yang membuatku sakit, tapi aku tidak bisa dan aku tidak
akan pernah bisa.
Aku
benci lemah, aku sangat membenci semua itu. Aku todak tau apa yang bisa
membantuku keluar dari semua ini, hanya aku dan diriku sendiri yang bisa
menguatkanku saat aku sudah sangat jatuh sudah sangat terpuruk. Aku tidak
pernah mengharapkan siapapun untuk mengangkatku dari semua ini!!
Aku
hanya ingin kamu.
Kamu
yang menguatkan aku, meski aku tak tahu kapan kau akan menganggapku berharga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar