Selasa, 20 Januari 2015

Aku Memilih Bertahan




Dengan langkah tergesa-gesa, aku menyusuri koridor gedung tempatku melaksanakan bimbingan belajar, karena hari ini pihak bimbingan sedang melaksanan Try Out yang dibimbing oleh seorang mahasiswa magang bernama kak Devo.
“Maaf kak saya telat” kataku sambil mengatur nafas setelah berlari.
“Iya ngga apa-apa silahkan masuk” sahutnya.
Lalu, aku pun masuk dan segera duduk lalu bergegas untuk mengerjakan soal yang sudah ada di atas mejaku.
Satu jam pun berlalu, dan semua soal telah selesai dikerjakan.
“Kamu dari mana aja sih? Lama banget tau ngga, ditelfon ngga diangkat, di sms juga ngga dibales” tanya Nindi.
“Iya Nin, soalnya semalam aku begadang buat belajar, eh ngga taunya malah telat juga” jawabku.
Kemudian aku dan Nindi pun kembali sibuk membaca buku untuk mata pelajaran selanjutnya. Saat sedang sibuk belajar, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata kak Devo.
“Tar, boleh ngomong bentar ngga?” tanyanya.
“Oh, iya boleh kok kak” jawabku.
“Yaudah kamu ikut aku yah? Aku mau ngebahas soal rencana kemping dan aku mau kamu yang jadi ketua panitianya nanti” katanya.
“Oke baik kak.” Sahutku.
Lalu, aku pun langsung mengikuti kak Devo ke ruangan pembimbing.
Setengah jam di ruangan itu kami hanya membahas mengenai rencana kemping. Di sisi lain aku sangat bahagia bisa bersama kak Devo, orang yang setahun belakangan ini telah membuatku jatuh cinta akan sosoknya yang cuek dan menurutku bijaksana dalam mengambil suatu keputusan maupun saat sedang menghadapi masalah.
“Ya udah, sekarang kamu masuk dulu, nanti malam aku kabari kalau udah dapat kepastian dari  pihak bimbingan” ujarnya.
“Iya kak” sahutku.
Aku pun kembali ke ruanganku dan mengikuti try out selanjutnya.
Hujan deras sedang mengguyur kota Makassar.
“Tar, pulang yuk, soalnya aku ada acara keluarga nih” sela Nindi.
“Kamu duluan aja Nin, bentar lagi aku juga dijemput kok” sahutku.
“Tapi beneran ngga apa-apa nih aku tinggal?” tanyanya dengan ragu.
“Iya beneran ngga apa-apa kok”. Kataku kemudian.
“Ya udah aku duluan yah, bye..” sahutnya.
Lalu, aku pun kembali duduk di ruang tunggu menunggu kakakku jemput. Tiba-tiba Kak Devo menghampiriku.
“Belum pulang Tar?” tanyanya.
“Belum kak, lagi nunggu jemputan, tapi ngga tau kenapa belum datang juga” jawabku.
Tiba-tiba dering telfonku membuat pembicaraanku dengan kak Devo terhenti.
“Iya kak aku masih disini”, “oh gitu, yaudah aku naik taxi aja”, “iya see u”. Lalu aku pun menutup telfonku.
“Kenapa tar? Ngga jadi dijemput?” tanya kak Devo penasaran.
“Iya kak, soalnya mendadak kakak aku ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal” jawabku.
“Yaudah kalau gitu aku anterin kamu pulang aja, kan kita searah.” Sahutnya.
“Ngga usah kak, aku bisa naik taxi kak, lagian aku ngga suka ngerepotin orang”jawabku.
“Ngga apa-apa kok, lagian aku juga ngelewatin rumah kamu kan? Jadi ayo aja” katanya dengan nada memaksa.
“Kalau gitu makasih sebelumnya kak” selaku.
Dan disinilah aku di atas mobil bersama kak Devo. Bahagiaku saat ini bersama dengan kak Devo, seandainya kak Devo tau itu.
Setelah sampai dirumah aku pun bergegas ke kamar untuk mandi lalu makan. Setelah makan, aku pun kembali ke kamar dan memainkan gadget. Aku langung membuka path karena melihat postingan dari Kak Devo. Betapa terkejutnya aku saat membuka postingan tersebut, yah disitulah aku melihat kak Devo memposting fotonya bersama cewek, dengan postingan “i love u dear”.
Sesak langsung yang aku rasakan, aku kemudian membuka semua postingan kak Devo, postingan demi postingan. Sekuat tenaga aku menahan air mataku. Usahaku sia-sia. Aku menangis.
Mungkin ini alasannya mengapa kak Devo tidak pernah memberikan sinyal bahwa dia memiliki perasaan lebih padaku. Mulai detik ini aku berusaha menerima semuanya. Tapi aku akan tetap bertahan pada perasaanku, karena aku yakin semua akan indah pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar