Dengan
langkah tergesa-gesa, aku menyusuri koridor gedung tempatku melaksanakan
bimbingan belajar, karena hari ini pihak bimbingan sedang melaksanan Try Out
yang dibimbing oleh seorang mahasiswa magang bernama kak Devo.
“Maaf
kak saya telat” kataku sambil mengatur nafas setelah berlari.
“Iya
ngga apa-apa silahkan masuk” sahutnya.
Lalu,
aku pun masuk dan segera duduk lalu bergegas untuk mengerjakan soal yang sudah
ada di atas mejaku.
Satu
jam pun berlalu, dan semua soal telah selesai dikerjakan.
“Kamu
dari mana aja sih? Lama banget tau ngga, ditelfon ngga diangkat, di sms juga
ngga dibales” tanya Nindi.
“Iya
Nin, soalnya semalam aku begadang buat belajar, eh ngga taunya malah telat
juga” jawabku.
Kemudian
aku dan Nindi pun kembali sibuk membaca buku untuk mata pelajaran selanjutnya.
Saat sedang sibuk belajar, seseorang menepuk pundakku dari belakang. Ternyata
kak Devo.
“Tar,
boleh ngomong bentar ngga?” tanyanya.
“Oh,
iya boleh kok kak” jawabku.
“Yaudah
kamu ikut aku yah? Aku mau ngebahas soal rencana kemping dan aku mau kamu yang
jadi ketua panitianya nanti” katanya.
“Oke
baik kak.” Sahutku.
Lalu,
aku pun langsung mengikuti kak Devo ke ruangan pembimbing.
Setengah
jam di ruangan itu kami hanya membahas mengenai rencana kemping. Di sisi lain
aku sangat bahagia bisa bersama kak Devo, orang yang setahun belakangan ini
telah membuatku jatuh cinta akan sosoknya yang cuek dan menurutku bijaksana
dalam mengambil suatu keputusan maupun saat sedang menghadapi masalah.
“Ya
udah, sekarang kamu masuk dulu, nanti malam aku kabari kalau udah dapat
kepastian dari pihak bimbingan” ujarnya.
“Iya
kak” sahutku.
Aku
pun kembali ke ruanganku dan mengikuti try out selanjutnya.
Hujan
deras sedang mengguyur kota Makassar.
“Tar,
pulang yuk, soalnya aku ada acara keluarga nih” sela Nindi.
“Kamu
duluan aja Nin, bentar lagi aku juga dijemput kok” sahutku.
“Tapi
beneran ngga apa-apa nih aku tinggal?” tanyanya dengan ragu.
“Iya
beneran ngga apa-apa kok”. Kataku kemudian.
“Ya
udah aku duluan yah, bye..” sahutnya.
Lalu,
aku pun kembali duduk di ruang tunggu menunggu kakakku jemput. Tiba-tiba Kak
Devo menghampiriku.
“Belum
pulang Tar?” tanyanya.
“Belum
kak, lagi nunggu jemputan, tapi ngga tau kenapa belum datang juga” jawabku.
Tiba-tiba
dering telfonku membuat pembicaraanku dengan kak Devo terhenti.
“Iya
kak aku masih disini”, “oh gitu, yaudah aku naik taxi aja”, “iya see u”. Lalu
aku pun menutup telfonku.
“Kenapa
tar? Ngga jadi dijemput?” tanya kak Devo penasaran.
“Iya
kak, soalnya mendadak kakak aku ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal” jawabku.
“Yaudah
kalau gitu aku anterin kamu pulang aja, kan kita searah.” Sahutnya.
“Ngga
usah kak, aku bisa naik taxi kak, lagian aku ngga suka ngerepotin
orang”jawabku.
“Ngga
apa-apa kok, lagian aku juga ngelewatin rumah kamu kan? Jadi ayo aja” katanya
dengan nada memaksa.
“Kalau
gitu makasih sebelumnya kak” selaku.
Dan
disinilah aku di atas mobil bersama kak Devo. Bahagiaku saat ini bersama dengan
kak Devo, seandainya kak Devo tau itu.
Setelah
sampai dirumah aku pun bergegas ke kamar untuk mandi lalu makan. Setelah makan,
aku pun kembali ke kamar dan memainkan gadget. Aku langung membuka path karena
melihat postingan dari Kak Devo. Betapa terkejutnya aku saat membuka postingan
tersebut, yah disitulah aku melihat kak Devo memposting fotonya bersama cewek,
dengan postingan “i love u dear”.
Sesak
langsung yang aku rasakan, aku kemudian membuka semua postingan kak Devo,
postingan demi postingan. Sekuat tenaga aku menahan air mataku. Usahaku
sia-sia. Aku menangis.
Mungkin
ini alasannya mengapa kak Devo tidak pernah memberikan sinyal bahwa dia
memiliki perasaan lebih padaku. Mulai detik ini aku berusaha menerima semuanya.
Tapi aku akan tetap bertahan pada perasaanku, karena aku yakin semua akan indah
pada waktunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar