Aku
selalu merasa paling beruntung memiliki sahabat seperti seperti Dara, Ibam,
Bryan, dan Angga. Sumpah, aku paling beruntung punya sahabat kayak mereka. Aku, Ibam, Bryan dan
Angga juga beruntung punya sahabat kayak Dara, dia bagaikan bidadari buat kami,
dia yang selalu buat kami semangat saat kami sedang punya masalah.
Persahabatan
kami udah 8 tahun, dan selama 8 tahun itu, kami nggak pernah sekalipun namanya
berantem atau nggak ngumpul, dan parahnya lagi, nggak ada satupun diantara kita
berlima yang punya pacar. Okey bukan nggak punya, tapi belum mau. Hahaha.
Tapi,
hari ini adalah hari dimana keceriaan yang dulu biasanya mewarnai persahabatn
kami, lenyap. Ketika Dara divonis mengidap penyakit Leukimia stadium akhir,
kami semua nggak seceria dulu lagi, kami
terus memikirkan keadaan Dara. Kami takut sewaktu-waktu Dara akan pergi
meninggalkan kami.
“sampai
kapan sih kalian mau kayak gini terus, aku nggak mau di sisa hidup aku kalian
malah jadi kayak gini, aku nggak mau, plis dong jangan kayak gini terus”
ucapnya membuka percakapan diantara
kami.
“kita
semua nggak mau kehilangan kamu Dar, kita semua sayang kamu” ucapku..
“kalian
nggak akan kehilangan yang namanya Dara, aku akan selalu ada buat kalian,
apapun yang terjadi, aku janji aku akan selalu ada disisi kalian” katanya
“tapi..”
selaku.
“udahlah
Reno, aku mohon udah yah, aku mau kalian bahagia, aku mau kalian buat aku juga
ikut bahagia jalanin sisa hidup aku, aku mohon”sambungnya.
“Oke
Dar, kita semua janji nggak akan sedih-sedih lagi, kita bakalan buat hidup kamu
indah seindah mungkin” ucapku.
Lalu,
kami semua memeluknya.
Hari-hari
kami lalui kembali seperti biasa, kami ngumpul seperti biasa, nggak jarang kami
memberikan kejutan-kejutan kecil yang dia anggap itu sangat berharga. Aku bahagia
melihat keadaan kami kayak dulu lagi, aku cuman bisa berharap aku masih bisa
merasakan kebahagiaan ini bersama mereka lebih lama lagi.
Tapi,
harapan hanyalah sekedar harapan, makin lama keadaan Dara makin memburuk. Kondisinya
makin melemah. Pertemuan kami pun sudah tidak sesering dulu lagi. Dara lebih
sering berada di rumah sakit. Kami pun sibuk dengan kerjaan masing-masing.
“Pagi
Dar, gimana keadaan kamu? Udah baikan?” tanyaku yang tiba-tiba muncul di pintu,
disusul Bryan, Ibam, dan Angga.
“heyy,
kalian datang? Nggak pada kerja?”tanya Dara dengan suara lemah.
“kerjaan
gampang, yang penting sekarang, kita semua ada disini buat kamu” sambung Bryan.
“makasih
ya”
“aku
boleh minta sesuatu sama kalian?tanya Dara memecah keheningan.
“boleh
dong! Apasih yang nggak buat Daranya kami” ucap Angga diikuti senyum jahilnya.
“bawa
aku keluar dari sini sekarang, aku pengen jalan-jalan.”
“tapi
Dar...”jawab Ibam dengan ragu-ragu.
“aku
mohon, aku nggak mau sisa hidup aku cuman di rumah sakit dan tiduran terus
kayak gini, aku mau jalan dan seru-seruan sama kalian” pintanya.
“yaudah,
tapi beneran kamu nggak apa-apa?” tanyaku cemas.
“Iya
aku nggak apa-apa.”
Lalu,
kami pun membawanya keluar dari rumah sakit.
Sepanjang
hari ini, kami membawanya ke tempat-tempat yang menyenangkan, kami
memperlakukannya layaknya putri raja yang tidak boleh tergores sedikitpun. Aku sangat
bahagia. Tiba-tiba...
“Dar,
hidung kamu berdarah” sontak Ibam.
“nggak
apa-apa Ren, aku nggak apa-apa” ucapnya.
“Kita
balik ke rumah sakit sekarang” sambungku.
Aku,
Ibam, Bryan dan Angga pun segera membawa Dara kembali kerumah sakit.
Belum
sampai dirumah sakit, Dara pingsan.
Kami
semua takut kehilangan Dara.
Sesampai
dirumah sakit dia langsung dibawa ke kamarnya.
Tidak
lama setelah itu, dia sadar.
“hey, kalian semua kok nangis?”tanya Dara
ketika melihat kami semua menangis
“kita
nggak mau kehilangan kamu Dar”ucapku.
“aku
kan udah pernah bilang kalian nggak akan pernah kehilangan aku, aku akan selalu
ada di sisi kalian selamanya.”ucapnya.
“Aku
sayang kalian, dan selamanya kita akan tetap menjadi sahabat meski dunia kita
udah berbeda.
Setelah
mengatakan itu Dara memejamkan matanya.
Dara
meninggal..
Setelah
pemakaman selesai, aku, Ibam, Bryan, dan Angga berkumpul di tempat biasa. Kami tidak
berhenti memikirkan Dara, tapi kami sudah berjanji akan tetap menjalani
hari-hari meski tanpa Dara.
Karena,
walaupun Dara tidak ada disamping kami, dia akan selalu berada di sisi kami
untuk selamanya.
----------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar