Kamis, 22 Januari 2015

SELAMANYA KITA ADALAH SAHABAT




Aku selalu merasa paling beruntung memiliki sahabat seperti seperti Dara, Ibam, Bryan, dan Angga. Sumpah, aku paling beruntung punya  sahabat kayak mereka. Aku, Ibam, Bryan dan Angga juga beruntung punya sahabat kayak Dara, dia bagaikan bidadari buat kami, dia yang selalu buat kami semangat saat kami sedang punya masalah.
Persahabatan kami udah 8 tahun, dan selama 8 tahun itu, kami nggak pernah sekalipun namanya berantem atau nggak ngumpul, dan parahnya lagi, nggak ada satupun diantara kita berlima yang punya pacar. Okey bukan nggak punya, tapi belum mau. Hahaha.
Tapi, hari ini adalah hari dimana keceriaan yang dulu biasanya mewarnai persahabatn kami, lenyap. Ketika Dara divonis mengidap penyakit Leukimia stadium akhir, kami semua  nggak seceria dulu lagi, kami terus memikirkan keadaan Dara. Kami takut sewaktu-waktu Dara akan pergi meninggalkan kami.
“sampai kapan sih kalian mau kayak gini terus, aku nggak mau di sisa hidup aku kalian malah jadi kayak gini, aku nggak mau, plis dong jangan kayak gini terus” ucapnya  membuka percakapan diantara kami.
“kita semua nggak mau kehilangan kamu Dar, kita semua sayang kamu” ucapku..
“kalian nggak akan kehilangan yang namanya Dara, aku akan selalu ada buat kalian, apapun yang terjadi, aku janji aku akan selalu ada disisi kalian” katanya
“tapi..” selaku.
“udahlah Reno, aku mohon udah yah, aku mau kalian bahagia, aku mau kalian buat aku juga ikut bahagia jalanin sisa hidup aku, aku mohon”sambungnya.
“Oke Dar, kita semua janji nggak akan sedih-sedih lagi, kita bakalan buat hidup kamu indah seindah mungkin” ucapku.
Lalu, kami semua memeluknya.
Hari-hari kami lalui kembali seperti biasa, kami ngumpul seperti biasa, nggak jarang kami memberikan kejutan-kejutan kecil yang dia anggap itu sangat berharga. Aku bahagia melihat keadaan kami kayak dulu lagi, aku cuman bisa berharap aku masih bisa merasakan kebahagiaan ini bersama mereka lebih lama lagi.
Tapi, harapan hanyalah sekedar harapan, makin lama keadaan Dara makin memburuk. Kondisinya makin melemah. Pertemuan kami pun sudah tidak sesering dulu lagi. Dara lebih sering berada di rumah sakit. Kami pun sibuk dengan kerjaan  masing-masing.
“Pagi Dar, gimana keadaan kamu? Udah baikan?” tanyaku yang tiba-tiba muncul di pintu, disusul Bryan, Ibam, dan Angga.
“heyy, kalian datang? Nggak pada kerja?”tanya Dara dengan suara lemah.
“kerjaan gampang, yang penting sekarang, kita semua ada disini buat kamu” sambung Bryan.
“makasih ya”
“aku boleh minta sesuatu sama kalian?tanya Dara memecah keheningan.
“boleh dong! Apasih yang nggak buat Daranya kami” ucap Angga diikuti senyum jahilnya.
“bawa aku keluar dari sini sekarang, aku pengen jalan-jalan.”
“tapi Dar...”jawab Ibam dengan ragu-ragu.
“aku mohon, aku nggak mau sisa hidup aku cuman di rumah sakit dan tiduran terus kayak gini, aku mau jalan dan seru-seruan sama kalian” pintanya.
“yaudah, tapi beneran kamu nggak apa-apa?” tanyaku cemas.
“Iya aku nggak apa-apa.”
Lalu, kami pun membawanya keluar dari rumah sakit.
Sepanjang hari ini, kami membawanya ke tempat-tempat yang menyenangkan, kami memperlakukannya layaknya putri raja yang tidak boleh tergores sedikitpun. Aku sangat bahagia. Tiba-tiba...
“Dar, hidung kamu berdarah” sontak Ibam.
“nggak apa-apa Ren, aku nggak apa-apa” ucapnya.
“Kita balik ke rumah sakit sekarang” sambungku.
Aku, Ibam, Bryan dan Angga pun segera membawa Dara kembali kerumah sakit.
Belum sampai dirumah sakit, Dara pingsan.
Kami semua takut kehilangan Dara.
Sesampai dirumah sakit dia langsung dibawa ke kamarnya.
Tidak lama setelah itu, dia sadar.
 “hey, kalian semua kok nangis?”tanya Dara ketika melihat kami semua menangis
“kita nggak mau kehilangan kamu Dar”ucapku.
“aku kan udah pernah bilang kalian nggak akan pernah kehilangan aku, aku akan selalu ada di sisi kalian selamanya.”ucapnya.
“Aku sayang kalian, dan selamanya kita akan tetap menjadi sahabat meski dunia kita udah berbeda.
Setelah mengatakan itu Dara memejamkan matanya.
Dara meninggal..
Setelah pemakaman selesai, aku, Ibam, Bryan, dan Angga berkumpul di tempat biasa. Kami tidak berhenti memikirkan Dara, tapi kami sudah berjanji akan tetap menjalani hari-hari meski tanpa Dara.
Karena, walaupun Dara tidak ada disamping kami, dia akan selalu berada di sisi kami untuk selamanya.
----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar